|

Orang Minang mempercayai legenda di balik terbentuknya danau, yaitu “Bujang Sembilan”. Ada sebuah keluarga terdiri dari 10 orang, 9 orang laki-laki atau disebut bujang dan seorang perempuan bernama Sani. Keelokan paras dan perilaku Sani, menjadi daya pikat tersendiri bagi pemuda bernama Sigiran. Belakangan, datang tuduhan dari Bujang Sembilan bahwa pasangan sejoli ini telah melakukan perbuatan amoral.
Bantahan atas tudingan itu ditunjukkan kedua insan itu dengan cara meloncat terjun ke kawah gunung. Jika gunung meletus, berarti tuduhan itu benar. Ternyata gunung tidak meletus. Sedangkan kawah semakin membesar dan kemudian terbentuklah danau tersebut. Karena tuduhannya tidak terbukti, para Bujang Sembilan kemudian dikutuk menjadi ikan.
banyak tokoh yang terlahir di desa Maninjau antara lain Buya Hamka (1908-1981) dan Rangkayo Rasuna Said (1910-1965).
Masih kisah lama sebagai pelengkap untuk mengembalikan postingan yang pernah hilang dulunya. Perjalanan wisata yang wempi tuliskan kali ini adalah perjalan ke Danau Maninjau dan Pantai Artha di Padang Pariaman.
Sekitar bulan Juni 2007 wempi dan teman-teman [lagi-lagi] berwisata di seputaran sumatera barat.
Perjalanan awal dari padang sekitar jam 5 sore menuju bukittinggi dengan waktu tempuh selama 2 jam, ditengah perjalanan tepatnya di padangpanjang teman-teman bisa menikmati air terjun lembah anai dan menikmati sajian makanan sate mak syukur.

Selain itu teman-teman juga bisa menikmati kue bika [bika mariana, indak dimakan takana-kana], sori... photona hanya ada bika talago, hehe...

Sampai di kota bukittinggi kami menginap kembali ke hotel [seperti biasa] hotel asia, hotel sederhana yang lumayan cocok buat kantong kita-kita. Kami sewa kamar paling atas dari hotel ini, maksudnya lantainya bukan kelasnya. Dan ditambah satu ekstra bed yang salah satu kakinya patah dengan kamar mandi satu dipakai rame-rame bareng penghuni lainnya.

Karena hotelnya tidak ada hiburan maka malam tersebut kami habiskan berajojing sampe oyong di hotel nuansa maninjau, berikut photonya [entah kenapa ada photo wempi kek gini ya, hehe...], oh ya dari bukittinggi ke hotel nuansa maninjau ini butuh waktu kira-kira 1,5 jam.

Keesokan paginya kami cekedot untuk melanjutkan perjalanan wisata ke danau maninjau.
Danau Maninjau sebenarnya sangat indah selain sejuk adem dan tentram danau ini dipercantik dengan adanya kelok 44 dan pemandangan persawahan yang asri namun sayangnya kurang diperhatikan dan menurut wempi masih jauh kalah pengelolaannya dibandingkan danau toba di sumatera utara. Di luar sana orang lebih kenal danau singkarak ketimbang danau maninjau.
Jika ke danau maninjau oleh-oleh yang wajib dibawa dari sini adalah kacang kulit dari matur, sekali anda mencoba gak akan berhenti sampe titik kacang penghabisan. Selain itu teman-teman bisa mencicipi penganan khas yang namanya pensi [semacam kerang] dijamin enak banget, hehe...

Di danau ini teman-teman juga bisa menikmati hidangan ikan bakar tapi nunggunya bisa sampe 2 jam, haha... mungkin prepare ikan bakarnya pas kita mesan kali, atau kebetulan wempi salah masuk ke resto.


Selesai makan ikan bakar perjalanan dilanjutkan ke pantai artha yang berada di padang pariaman, waktu tempuh sekitar 2 jam juga dari danau maninjau. Di pantai ini [dulu] teman-teman bisa menikmati makanan nasi seks aka nasi seribu kenyang.
Tapi... sangat disayangkan pantai ini juga kurang perhatian. Waktu itu hanya wempi dan teman-teman satu-satunya pengunjung di sana. Beda sama pantai cermin di sumatera utara yang selalu rame wisatawan tiap hari libur, padahal dari segi pemandangan lebih indah pantai artha karena menghadap ke samudera sedangkan pantai cermin diapit selat.

Menjelang sore, perjalanan selanjutnya adalah pulang kembali ke padang untuk melanjutkan rutinitas seperti biasa.
|