Wempi Satria Wempi Satria

Berlangganan

Isikan alamat email:

Google PageRank Checker

Komentar Terakhir

Sponsor Wempi


Banner 400x50

Tikus Kejepit di Loteng
Dari Wempi - Catatan Harian
Rabu, 30 Maret 2011 21:31

https://lh3.googleusercontent.com/_IZ6QAzV8QoI/TZNAyNm3GNI/AAAAAAAAC80/hVOIcMWVjJc/s400/tikus.jpg

Hari ini, tanggal 30 Maret 2011, sepulang kerja, adalah hari sengsara bagi wempi. Pasalnya, rumah wempi dipenuhi dengan bau busuk bangkai yang semerbak. Sebelumnya, tanggal 29 Maret 2011, bau tersebut hanya diseputaran kamar saja. Tak disangka hari ini menjalar ke seluruh ruangan.

Indera penciuman dipertajam, untuk mengetahui dari mana sumber bebauan tersebut. Namun, tidak membuahkan hasil! Wempi yakin di loteng, karena ada rembesan 'seperti' bercak darah disudut loteng kamar. Tapi bapak bilang "Gak mungkin, loteng kan tertutup rapat oleh gypsum".

Ah... Wempi tetap pada pendirian "Bau ini bangkai pasti dari loteng".

Hujan yang belum reda, dengan berlari-lari kecil wempi cari tangga disekitar rumah yang dibangun oleh developer. Wempi pernah lihat tangga itu. Dari ujung ke ujung wempi cari, tapi kok gak nemu juga.

Dengan rasa penasaran yang begitu besar, wempi coba pinjam bangku tinggi dari ibuk-ibuk tetangga sebelah. Dicoba, ternyata kurang tinggi! Cari akal lagi, Wempi taroh papan bekas buat ngecor tiang pagar dulu. Masih kurang tinggi juga untuk sampe ke kolong loteng, itu papan gak jadi kepake.

Orang rumah nyaranin, ditambah pake lemari kecil kamar set, yang sepasang itu. Wempi susunlah diatas bangku tinggi tersebut.

"Loh... gimana cara naiknya ini? gak ada yang bisa diinjak buat naik keatas lemari yang sudah disusun dibangku itu".

"Ah ada akal, wempi taroh aja papan cor tadi disamping bangku yang sudah ada lemari mini dua biji di atasnya, sebagai alat bantu naik".

Jangan ditanya deh bagaimana susahnya naik ke kolong loteng menggunakan kombinasi bangku tinggi, dua lemari mini dan sebilah papan cor. Pokoknya wempi sampe juga ke loteng + senter dipinggang.

Senter semua bidang, gak ada apa-apa. Terakhir wempi senter ke arah tempat yang wempi curigai itu. "Ah... ini dia, tikus mampus kejepit diantara plafond gypsum dan bidang profil".

"Nok...!!! Ambilkan benang, lempar kesini! Ternyata ada tikus kejepit, keknya masih hidup deh...".

"Yop...! Masih hidup? kok dah bau bangkei". Lalu melempar benang dimaksud.

"Lemparkan juga baju deh, buat nutup hidung... baunya asoy geboy nih".

"Yop...!". Baju pun datang.

"Sekarang pisau, ikatkan ke benang ini". Sambil menjulurkan benang ke bawah.

"Pisau? tikusnya mau dibantai?".

"Gak... buat motong gypsumnya dikit supaya bisa ngeluarin itu tikus".

Setelah pisau didapat dan hidung sudah dibaluti baju pelindung. Pekerjaan inti dimulai. Wempi korek-korek, wempi potong-potong gypsumnya sedikit-demi sedikit supaya gak melewati profil, kalo kelewatan, bisa tembus dan bisa bolong plafond kamar wempi.

Tikusnya wempi tusuk-tusuk dikit. Gak gerak. Wempi tusuk agak keras. Gak gerak juga. Wempi tarik buntutnya. Ngelawan. "Ow... gak iyes nih..." Wempi congkel... ajubile... kepalanya pecah mengeluarkan belatung yang banyak.

"Nok...! ambilkan plastik asoy... ternyata tikusnya sudah tewas." Sambil menjulurkan benang lagi.

"Yop...!

Tikus berbelatung yang sudah pecah kepalanya itu wempi angkat hati-hati kemudian dimasukkan kedalam plastik asoy. Lalu diikatkan kebenang dan dijulurkan lagi ke bawah supaya segera dibuang oleh rang rumah.

Selesai dah sudah, namun semalaman ini keknya bebauan itu masih merekah...



 

Add comment


Security code
Refresh

Wempi Satria
Wempi NoksPi
Plugin Joomla AutoSEO 1.2 by geekspace.free.fr