|

Berawal dari postingan salah seorang rekan member milis yang wempi ikuti. Pikiran langsung menerawang kemasa lalu sewaktu wempi berusaha mengobati katarak mata papa dengan keterbatasan waktu dan uang.
Tahun 2008. Papa yang berdomisili di kampung mengabarkan kondisi terkininya melalui hp. Papapun memberitahu keinginan agar wempi mau mengobati matanya di padang. Berdasarkan vonis dokter, untuk bisa melihat lagi mata papa harus dioperasi. Hari itu juga wempi mengajukan cuti keperusahaan dan meminta pulang kerja lebih cepat. Menggunakan mobil rental teman sekantor wempi berangkat bersama istri ke kampung papa di bukik layang-layang, baso, bukittinggi.
Singkat cerita, Esok subuhnya wempi bawa papa ke padang. Sesampai di padang wempi persilakan papa untuk istirahat dulu di rumah wempi yang mungil sembari wempi mencari-cari lokasi dan dokter buat operasi mata papa.
Pertama sekali wempi kunjungi ialah teman yang bekerja di optik salah seorang dokter spesialis mata. Wempi ceritakanlah detilnya kondisi papa sampai wempi tanya berapa biaya operasi katarak dengan dokter tersebut. Teman ini menyebutkan angka 4,5 juta untuk operasi katarak satu mata. Ini berarti operasi dua mata papa membutuhkan setidaknya 10 juta dengan obat-obatannya.
Dengan posisi sebagai kacung berpangkat kuli diperusahaan yang katanya internasional waktu itu, wempi pun lemas mengulang mengucap angka tersebut.
Wempi balik ke rumah dan menceritakan kepada papa, dengan biaya segitu wempi hanya mampu mengobati satu mata papa saja. Sesuai dugaan wempi, papa pun agak terlihat sedih menerimanya walaupun tetap mengiyakan untuk operasi satu mata saja.
Dapat informasi dari tetangga, wempi pun pergi ke klinik mata di jl. sawahan padang. Sesampai di sana wempi disambut perawat, disuruh ambil nomer antrian, dokter adanya ntar malam. Lalu wempi tanyakan juga berapa biaya operasi katarak, perawat itu tidak menjawab, harus periksa dulu katanya. Wempi makin drop dan pasrah hanya mampu mengobati satu mata dari dua mata papa yang kena katarak.
Dari jl. sawahan wempi tidak langsung pulang, wempi singgah dulu ke rumah mertua. Di sana wempi manyun hingga datang informasi dari tetangga melalui istri mengenai Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) yang ada di jalan gunung pangilun. Wempi batalkan agenda berobat papa ke klinik mata di sawahan malam itu.
Besoknya wempi telp perusahaan untuk penambahan hari cuti dan segera membawa papa ke BKMM di gunung pangilun. Waduh, ternyata sesampai di BKMM tidak ada orang, rupanya hari itu adalah cuti bersama. Esoknya pun hari sabtu dan minggu, papa bersabar dulu. Paling tidak kita sudah tau dari papan pengumuman pendaftaran pasien baru hanya dilayani dari jam 8 pagi hingga jam 11 siang, kemudian informasi yang paling menggembirakan dari pengumuman itu adalah biaya operasi katarak satu mata hanya 1,6 jt untuk umum, sedangkan untuk pasien yang mengantongi surat miskin hanya [kalau tidak salah] 1,25 jt.
Hari senin pagi dengan ceria dan semangat kami menuju BKMM gunung pangilun.
Di sana, kami daftar dulu sebagai pasien baru, kemudian membayar sekian ribu untuk administrasi dan disuruh menunggu hingga dipanggil. Lama juga menunggu, karena saking ramainya.
Sekitar 2 jam-an berlalu nama papa akhirnya dipanggil. Papa masuk ke ruangan pemeriksaan. Di situ papa disuruh melihat huruf di dinding, hee... sudah pasti gak bisa lihat. Papa sekarang untuk berjalan sudah pakai tongkat dan dibimbing. Kemudian diperiksa pakai senter.
Sehabis itu papa masuk ruangan praktek adek-adek mahasiswa. Di ruangan itu mata papa di pelajari. Rame-rame... Ditanyain ini itu, disuruh ini itu, di senter juga, hee... kemudian di catet. Entah apa yang di catet wempi tidak tau. Wempi hanya berharap supaya kelak mahasiswa itu jadi dokter yang murah biaya.
Selesai di ruangan mahasiswa, papa di suruh ke ruangan lain lagi. Di situ papa dicek matanya menggunakan alat optik. Lalu dokter beri rekomendasi untuk opersai katarak hari kamis, dan kami sanggupi.
Hari itu juga kami lunasi bayar biaya operasi 3,2 jt dan disuruh ambil obat-obatan serta lensa pengganti untuk digunakan pada saat operasi hari kamis nanti. Pada awalnya kami kira akan bayar lagi obat-obatan dan lensa, rupanya tidak. Biaya tersebut sudah mencakup semuanya.
Hari kamis, setelah melakukan tes urine dan briefing kesiapan menghadapi operasi dan pasca operasi, papa pun masuk ruang operasi. Tidak butuh waktu lama, papa pun keluar dengan mata diperban, papa selesai dioperasi. Hanya tinggal tahap penyembuhan pasca operasi dan papa harus nginap 2 malam di sana.
Di kamar itu ada 3 pasien, ada papa, yang satu dari kerinci dan satu lagi dari lampung. Yang dari kerinci esoknya terpaksa di operasi ulang karena pasca operasi melakukan hal-hal yang dilarang oleh perawat.
Alhamdulillah, sekarang papa sudah bisa melihat lagi. Matanya seperti robot, heee... lensa penggantinya seperti kaca.
Bagi teman-teman yang pengin operasi katarak murah meriah, datang saja ke BKMM gunung pangilun, hehe...
|