|

Hari itu adalah saat pembagian raport catur wulan, 2 kalau tidak salah. Wempi saat itu sudah kelas 3 di SMUN 4 Padang. Seharusnya para orang tua atau wali murid lah yang mengambil raport kala itu. Wempi yang tidak memiliki orang tua di Padang dan kebetulan wali juga sibuk kerja terpaksa wempi sendiri yang mengambil.
Ada juga teman-teman sekolah yang bawa orang lain yang lebih tua, entah siapa. Nanti sewaktu pengambilan raport ngaku sebagai kakak... salah satu kenakalan semasa SMA lah. Dan ada juga yang meminjam orang tua teman lainnya untuk bisa mengambil raport murid yang kebetulan sedang panen cabe.
Berangkatlah wempi pagi-pagi sekali dari rumah melewati "gang senggol" samping sekolah yang sudah biasa dilewati. whu... jadi ingat jaman SMA dulu, jadi ingat teman-teman SMA dulu, dan ingat sewaktu hampir jadi lalapan homo yang menjadi ide tulisan kali ini.
Ada seorang lelaki putih dengan tubuh standar biasa saja, tatapannya tajam namun agak aneh di sekolah. Terus saja memandang wempi yang lagi diam sendirian di sudut sekolah menunggu pembagian raport. Ternyata wempi terlalu pagi berangkat ke sekolah.
Lelaki tersebut melangkah mendekati wempi. Kamipun berkenalan.
"Mau ngambil raport adiknya ya?" Dia memulai percakapan.
"Gak. Mau ngambil raport sendiri kok."
"Oo... Uda mau ngambil raport adik kelas uda di sini. Jam brapa ya penyerahan raportnya? kok masih sepi?"
"Iya... mungkin mulai jam 9 atau jam 10 nanti."
Ngobrol wempi dan dia terus saja mengalir. Sampai bertukar topik ke petualangan alam seperti cerita sewaktu mendaki gunung singgalang, gunung merapi, gunung talang dan gunung tandikek.
Hingga guru-guru wali kelas memasuki ruangannya masing-masing untuk melakukan pembagian raport ke pada para orang tua dan wali murid.
"Nanti uda tunggu di gerbang ya." Katanya. Sewaktu wempi akan memasuki ruangan penyerahan raport. Wempi agak bingung namun wempi jawab saja "Iya."
Setelah selesai penyerahan raport di gerbang dia ternyata memang menunggu wempi, ada apa gerangan?
"Main ke rumah yuk." Ajaknya agak sedikit memaksa.
"Ya. Boleh lah"
Kami berjalan kaki ke arah rumahnya yang berada dekat sekolah tepatnya jalan dalam gadung. Kemudian berpamitan dengan orang tua nya baik perempuan maupun laki. Wajah mereka agak berbeda dengan orang tua teman-teman wempi yang lainnya dikala berpamitan. Ada gelagat yang kurang baik. Lagian dia ngajak main kerumah kok malah pamitan, memangnya mau kemana? Bawa mobil segala.
Wempi ikuti saja kehendaknya namanya juga teman baru, gak enak juga rasanya nolak ajakan teman baru.
"Saya harus bawa pulang raport ini ke rumah dulu da." kata wempi karena beliau mengemudikan mobilnya ke arah menjauh dari rumah wempi.
"OK."
Ada lagi yang aneh dari teman baru ini, dia tidak mau ke rumah wempi, dia memilih menunggu di persimpangan saja, padahal bawa mobil. Aneh...
Setelah raport diletakkan dirumah, wempi kembali ke persimpangan jalan dan masuk ke dalam mobil. Mobil kembali di kemudikan ke arah yang tadi. Dipertengahan jalan dia nanya "Sudah pernah nonton film triple x blon?"
"Sudah." Jawab wempi "Kenapa memangnya?"
Memang semasa SMU dulu film dewasa bisa dengan mudah disewa walupun masih anak sekolahan. Di kelas wempi malah pernah nonton barengan, kelompok cowok di rumah cowok yang kebetulan orang tuanya pulang kampung begitu juga kelompok cewek nonton bareng di rumah salah seorang cewek yang orang tuanya juga lagi tidak berada dirumah.
Keesokan harinya kami para cowok dan cewek bertukar cerita mengenai tontonan blue film yang kemaren, kemudian saling tukar cd/dvd film yang sudah di tonton tersebut. Untung saja di kelas kami tidak ada yang neko-neko sampai "accident". Dimana pada angkatan yang sama dengan wempi ada 2 orang yang "accident" kala itu karena tidak mampu mengendalikan "rasa ingin tahu" kemudian mencoba adegan berbahaya tersebut.
"Kita akan nonton ini." Jawabnya lagi sambil menyodorkan beberapa bungkus cd/dvd film dewasa.
Dipertengahan jalan dia juga berhenti untuk membeli 2 bungkusan makan siang dan sebungkus rokok. Lalu tancap gas lagi ke arah perumahan parak karakah rupanya. Ada rumahnya di sana kosong namun rapi dan bersih tidak seperti rumah kosong, kami lanjut makan siang dan merokok.
Tibalah acara intinya, yaitu nonton blue film.
Si teman menyuruh wempi mengganti celana dengan sarung. "Apa gak sempit itu nanti kan tegang?" dia melobi.
Sebenarnya agak sungkan tapi wempi ikuti saja karena dia selalu melobi dengan berbagai cara supaya wempi mau memakai sarung, akhirnya wempi pakai juga tuh sarung menggunakan salah satu kamar di rumah itu.
Film diputar. Jalan cerita filmnya tidak usah dituliskanlah ya...
Sekitar setengah jam kemudian gelagat tidak baik sudah mulai muncul. Tanpa disangka dan sangat sigap dia menyingkap sarung yang wempi kenakan sembari memegang titit wempi. "Sudah tegang dan keluar air rupanya". Dia meledek... dan ketawa hahaha...
Malu dan kaget sekali wempi dibuatnya, ini teman baru maunya apa? tingkahnya kok aneh-aneh gitu.
"Kita gini yuk." katanya sambil mengemut jempol tangan kanannya.
Astaganaga... dalam hati wempi berucap. Ni teman baru... homo rupanya.
"Oh... saya bukan orang begituan da." Wempi menolak.
"Tidak apa-apa, yang ngemut kan uda bukan wempi." Ucapnya. Jijay bajay kali wempi dengar omongan teman baru ini.
Tangannya terus saja gelayapan membuka sarung dan mau mengemut titit wempi. Wempi pegang kedua tangannya, dia pun minta dilepaskan sambil mengancam. Keringatnya bak butir jagung. Wempi gak mau ngalah. Tapi tenaganya memang benar-benar kuat di bandingkan bencong lor.
Tenaga wempi hampir terkuras untuk memegang dan menahan tangannya. Wempi cari ide harus dengan cepat. Wempi lepas tangan dan secepatnya ke kamar dimana wempi meletakkan celana jeans wempi sewaktu menggantinya dengan sarung.
Dia tidak kalah gesitnya juga, dia mengejar dan menginjak kaki celana wempi sehingga kaki wempi tidak bisa memasuki celana jeans dengan sempurna. Untung saja dari jendela terlihat anak-anak lagi bermain di jalan.
"Lepaskan! atau saya teriak." Ucap wempi mengancam.
Dia agak kesal dan marah, wempi akhirnya dapat juga memakai celana dengan sempurna. Dia beranjak keluar kamar. Wempi langsung bergegas ke pintu depan.
Fuck!!! Shit!!! kuncinya tidak ada. Mati dibunuh homo sudah menghantui wempi. Tapi untung saja dia kebelakang rupanya hanya mencuci muka dan menyeka keringat. Disaat kalapnya belum ada kepikiran untuk mengancam wempi dengan senjata tajam dari dapur supaya wempi nurut memenuhi hasrat homonya.
"Anggap saja kejadian ini tidak ada ya". Katanya.
"Biar uda antar ke jalan raya." Sambungnya lagi.
Wempi diturunkan di jembatan marapalam lubuk begalung dan disuruh untuk pulang naik angkot.
-----
Terdengar kabar terakhir beliau sudah memiliki istri dan menjadi anggota kepolisian.
Sebuah pengalaman yang tidak terlupakan sewaktu SMU. Silakan ditebak ini cerita fiksi atau non fiksi 
|