Wempi Satria Wempi Satria

Berlangganan

Isikan alamat email:

Google PageRank Checker

Komentar Terakhir

Sponsor Wempi


Banner 400x50

Mak Ijun Pengusaha Bodoh
Dari Wempi - Resonansi
Senin, 07 Desember 2009 00:00

Pengusaha

Dulu, dulu sekali ada beberapa orang yang bakal menjadi pengusaha sukses menurut hasil hitung-hitungan dan hasil ramalan wempi - waktu itu - di kampung halaman wempi. Terang saja karena mereka satu-satunya pengusaha pada bidangnya di kampung.

Tapi pengusaha ini kebanyankan bodoh, sangat bodoh... tidak mampu menggunakan waktu dan kesempatan yang dimiliki dengan maksimal.

Satu diantaranya adalah Mak Ijun. Mak Ijun adalah pengusaha pedagang alat musik, alat olah raga, photocopy, keperluan perkantoran dan keperluan sekolah. Tokonya selalu didatangi oleh pembeli dari penghujung kampung, karena memang, hanya beliau yang memiliki usaha dan barang dagangan seperti itu di kampung.

Tapi sayangnya Mak Ijun penganut paham anak dipangku, kamanakan dibimbiang urang kampuang dipatenggangkan pulo.

Mak Ijun mempunyai seorang anak buah, sudah bertahun-tahun menjadi pekerja beliau. Tapi apa yang mak ijun lakukan, disaat sang anak buah menyampaikan niat untuk berkeluarga Mak Ijun malah langsung mendirikan usaha toko sama persis dengan usahanya yaitu dagang alat musik, alat olah raga, photocopy, keperluan perkantoran dan keperluan sekolah. Toko tersebut langsung diberikan kepada anak buahnya itu. Mak Ijun hanya minta modal dikembalikan tapi anehnya tidak ada patokan sebulan harus setor sekian juta tapi pake system syariah (bagi hasil) sampai modal tersebut lunas. Sedangkan di toko Mak Ijun, Mak Ijun merekrut anak buah baru. Toko itu terakhir malah diberikan begitu saja kepada mantan anak buah nya itu setelah modal kembali.

Apa gak bodoh tuh Mak Ijun. Kenapa tidak dijadikan kacung saja itu anak buah seperti yang dilakukan pengusaha-pengusaha sukses lainnya. Mak Ijun kan bisa punya 2 toko. Dasar Bodoh... dikasih ke orang, jadi kompetitor usaha sendiri.

Bukan itu saja kebodohan Mak Ijun. Mak Ijun juga tidak kapok-kapoknya ngasih modal ke uni nya, awalnya dagang kain - bangkrut, kemudian kasih modal lagi dagang buah-buahan - bangkrut lagi, kemudian kasih modal lagi usaha gorengan kaki lima - masih bangkrut juga.

Mak Ijun bukannya kapok tapi malah membelikan uni nya itu kebun sawit sekian hektar, sekarang si uni goyang-goyang kaki saja di rumah nikmati hasil sawit tiap kali panen, soal pengolahan serahkan saja ke Perusahaan perkebunan ngapain bingung dan susah-susah.

Banyak sangat kebodohan-kebodohan Mak Ijun sebagai pengusaha dan bisnismen bikin wempi geram pada waktu itu, si A diberi kebun jeruk, si B didirikan toko yang sama juga dan seterusnya.

Sekarang Mak Ijun kena stroke. Buat jalan saja sudah menyusahkan anak istri. Pundi-pundi kekayaan cuma 1 rumah dan 1 toko sebagai sumber penghasilan, buat berobat dana sudah ngap-ngap an. Tapi tetap saja masih kepikiran untuk mencari uang buat beberapa anak kemenakannya yang sampai saat ini masih nganggur atau masih jadi kacung orang dari pada mencari uang untuk mengobati strokenya.

Padahal Mak Ijun seharusnya sekarang sudah seperti gambar di atas, berobat mainnya sudah ke singapura, rumah sakit indonesia  bukan levelnya lagi. obat generic "no way". Punya perkebunan dan unit usaha dimana-mana.

Mak Ijun yang wempi ceritakan di atas jangan teman-teman tiru. Yell

--------------------

Silakan ditebak ini cerita fiksi atau non fiksi? Laughing Belakangan wempi merenung kembali setelah mendapatkan info dari sebuah sumber yang kurang terpercaya bahwa pengusaha di indonesia jumlahnya belum sampai 2% dari total penduduk. Selebihnya cuma jadi kacung saja (termasuk wempi). Benarkah Mak Ijun adalah sosok pengusaha bodoh yang tidak bisa menggunakan waktu dan kesempatan secara maksimal? Bagaimana menurut teman-teman?

Anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan. Salah satu aturan atau adat Minang yang bersifat matriarchat, dimana suku atau farm satu keluarga adalah berdasarkan ibu, bukan ikut bapak. Maka seorang lelaki Minang, tidak saja harus “memangku” anaknya sendiri, tetapi juga harus “membimbing” kemenakannya. Selanjutnya dia juga harus mempertenggangkan orang kampungnya atau masyarakat.



 

Comments  

 
0 #32 achoey 2009-12-24 13:25
hehehe
bener saya gak mau niru

ehm, kali ini fiksi deh hehehe
Quote | Report to administrator
 
 
0 #31 Info bisnis 2009-12-21 21:54
Kalo menurut saya mak Ijun tidak bodoh, malah sebaliknya :dry: Mak Ijun lebih percaya pada kredo "harta yang sebenarnya adalah harta yang disedekahkan". Sikap yang dilakukan mak Ijun seharusnya diterapkan oleh sebagian besar pengusaha yang ada di negeri ini, jika semua pengusaha mampu bersikap seperti mak Ijun saya yakin masalah kemiskinan yang ada di segeri ini mampu teratasi. Itulah alasan kenapa kroni dagang Cina mampu menguasai market Indonesia, jarang kita lihat bangsa Cina yang bisnisnya kurang sukses. Walaupun mereka minoritas namun bisa kompak maju bersama-sama dan mampu menjalankan bisnis berjama'ah (maaf ini cuma istilah saya saja). Beda dengan kebanyakan orang Indonesia yang belum bisa mengambil filosofi mengapa shalat berjama'ah lebih disukai oleh Allah dan menghasilkan pahala yang 24x lipat banyaknya dibanding dengan shalat yang munfarid. (Maaf bukannya memunculkan isu SARA, saya orang Indonesia asli yang cinta dan bangga dengan keIndonesiaan saya, saya cuma melihat kenyataan dan mencoba mengulasnya di sini untuk menjadi perenungan dan pelajaran bagi kita semua) :-)

Btw ini kunjungan pertama saya, salam kenal dan jangan lupa mampir ke 'gubug' saya, makasih :-)
Quote | Report to administrator
 
 
0 #30 Domba Garut! 2009-12-18 04:02
Kadang contoh seperti si Mak Ijun itu malah tambah banyak terlihat ditanah air ini - dengan tulisanmu ini bisa menggugah pola pikir mereka ya ..

Seneng udh bisa mampir kesini - salam hangat dari afrika barat!
Quote | Report to administrator
 
 
0 #29 Ria 2009-12-18 00:16
Sebenrnya di satu sisi aku salut mas dengan mak jun, hanya saja mungkin dia perlu sedikit belajar bagaimana memberi tanpa harus merugikan diri sendiri.

tapi memberi kepada orang lain tidak akan rugi kok, apalagi yg di bantu adalah benar membutuhkan. Mungkin makjun bodoh di dunia tetapi di akhiran kelak dia akan dapat tempat yg selayaknya.
Quote | Report to administrator
 
 
0 #28 liza 2009-12-14 14:56
uda...daku salutlah sama mak ijun itu, jarang-jarang ada orang yang kek gitu. Tabungan diakhirat buat dia tuh...**ngayal one day ranggachoco sukses...bisa buka cabang di medan, yang ngurus udah wempi wakawkwkwkw....
Quote | Report to administrator
 
 
0 #27 Khery Sudeska 2009-12-14 06:40
Tumben, ini blog pake lagu dangdut sekarang, Wem :woohoo:
Quote | Report to administrator
 
 
0 #26 Dangstars 2009-12-12 14:49
Salam Dan Teriring Doa buat sahabat
Semoga selalu ceria dan semangat
Quote | Report to administrator
 
 
0 #25 Anuh 2009-12-12 13:31
Mak Ijun...Mak Ijun..! Dikau memang bodoh. Kalau semua orang seperti dirimu, bisa makmur bangsa ini. Bisa sejahtera, madani bangsa ini. Duuuhh Mak Ijuun... :silly:
Quote | Report to administrator
 
 
0 #24 Solo Life 2009-12-12 03:19
Mak Ijun..salute
Quote | Report to administrator
 
 
0 #23 anderson 2009-12-11 21:20
Hmm...kalo punya kelebihan harta serta kemampuan, prinsip Anak Dipangku Kamanakan di Bimbiang dan Urang kampuang dipatenggangkan itu sih oke-oke aja...

Tapi kalau ekonomi masih pas-pasan...mamangku anak saja udah susah, apalagi mampatenggangka n urang kampuang... :-)
Quote | Report to administrator
 

Add comment


Security code
Refresh

Wempi Satria
Wempi NoksPi
Plugin Joomla AutoSEO 1.2 by geekspace.free.fr