|

Dulu, dulu sekali ada beberapa orang yang bakal menjadi pengusaha sukses menurut hasil hitung-hitungan dan hasil ramalan wempi - waktu itu - di kampung halaman wempi. Terang saja karena mereka satu-satunya pengusaha pada bidangnya di kampung.
Tapi pengusaha ini kebanyankan bodoh, sangat bodoh... tidak mampu menggunakan waktu dan kesempatan yang dimiliki dengan maksimal.
Satu diantaranya adalah Mak Ijun. Mak Ijun adalah pengusaha pedagang alat musik, alat olah raga, photocopy, keperluan perkantoran dan keperluan sekolah. Tokonya selalu didatangi oleh pembeli dari penghujung kampung, karena memang, hanya beliau yang memiliki usaha dan barang dagangan seperti itu di kampung.
Tapi sayangnya Mak Ijun penganut paham anak dipangku, kamanakan dibimbiang urang kampuang dipatenggangkan pulo.
Mak Ijun mempunyai seorang anak buah, sudah bertahun-tahun menjadi pekerja beliau. Tapi apa yang mak ijun lakukan, disaat sang anak buah menyampaikan niat untuk berkeluarga Mak Ijun malah langsung mendirikan usaha toko sama persis dengan usahanya yaitu dagang alat musik, alat olah raga, photocopy, keperluan perkantoran dan keperluan sekolah. Toko tersebut langsung diberikan kepada anak buahnya itu. Mak Ijun hanya minta modal dikembalikan tapi anehnya tidak ada patokan sebulan harus setor sekian juta tapi pake system syariah (bagi hasil) sampai modal tersebut lunas. Sedangkan di toko Mak Ijun, Mak Ijun merekrut anak buah baru. Toko itu terakhir malah diberikan begitu saja kepada mantan anak buah nya itu setelah modal kembali.
Apa gak bodoh tuh Mak Ijun. Kenapa tidak dijadikan kacung saja itu anak buah seperti yang dilakukan pengusaha-pengusaha sukses lainnya. Mak Ijun kan bisa punya 2 toko. Dasar Bodoh... dikasih ke orang, jadi kompetitor usaha sendiri.
Bukan itu saja kebodohan Mak Ijun. Mak Ijun juga tidak kapok-kapoknya ngasih modal ke uni nya, awalnya dagang kain - bangkrut, kemudian kasih modal lagi dagang buah-buahan - bangkrut lagi, kemudian kasih modal lagi usaha gorengan kaki lima - masih bangkrut juga.
Mak Ijun bukannya kapok tapi malah membelikan uni nya itu kebun sawit sekian hektar, sekarang si uni goyang-goyang kaki saja di rumah nikmati hasil sawit tiap kali panen, soal pengolahan serahkan saja ke Perusahaan perkebunan ngapain bingung dan susah-susah.
Banyak sangat kebodohan-kebodohan Mak Ijun sebagai pengusaha dan bisnismen bikin wempi geram pada waktu itu, si A diberi kebun jeruk, si B didirikan toko yang sama juga dan seterusnya.
Sekarang Mak Ijun kena stroke. Buat jalan saja sudah menyusahkan anak istri. Pundi-pundi kekayaan cuma 1 rumah dan 1 toko sebagai sumber penghasilan, buat berobat dana sudah ngap-ngap an. Tapi tetap saja masih kepikiran untuk mencari uang buat beberapa anak kemenakannya yang sampai saat ini masih nganggur atau masih jadi kacung orang dari pada mencari uang untuk mengobati strokenya.
Padahal Mak Ijun seharusnya sekarang sudah seperti gambar di atas, berobat mainnya sudah ke singapura, rumah sakit indonesia bukan levelnya lagi. obat generic "no way". Punya perkebunan dan unit usaha dimana-mana.
Mak Ijun yang wempi ceritakan di atas jangan teman-teman tiru. 
--------------------
Silakan ditebak ini cerita fiksi atau non fiksi? Belakangan wempi merenung kembali setelah mendapatkan info dari sebuah sumber yang kurang terpercaya bahwa pengusaha di indonesia jumlahnya belum sampai 2% dari total penduduk. Selebihnya cuma jadi kacung saja (termasuk wempi). Benarkah Mak Ijun adalah sosok pengusaha bodoh yang tidak bisa menggunakan waktu dan kesempatan secara maksimal? Bagaimana menurut teman-teman?
Anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan. Salah satu aturan atau adat Minang yang bersifat matriarchat, dimana suku atau farm satu keluarga adalah berdasarkan ibu, bukan ikut bapak. Maka seorang lelaki Minang, tidak saja harus “memangku” anaknya sendiri, tetapi juga harus “membimbing” kemenakannya. Selanjutnya dia juga harus mempertenggangkan orang kampungnya atau masyarakat.
|